SORONG SERAH AJI KRAME

SORONG SERAH AJI KRAME
Oleh: LALU BAYU WINDIA
Ketua Majelis Adat Sasak

Ringkasan
Merarik adalah Perkawinan Adat Sasak yang dimulai dari proses mbait (mengambil calon istri) – Sejati – Selabar – Nuntut Wali – Rebaq Pucuk – Sorong Serah Aji Krame – Nyongkolan – sampai Bales Ones Nae. Serong Serah Aji Krame itu sendiri adalah prosesi mengenai suatu ‘persaksian baik’ berkenaan dengan derajat kemartabatan. Ia dilaksanakan dalam rangka terpenuhinya salah satu syarat ritual adat perkawinan. Didalam prosesi ini, penyampaian pesan (messages) dilakukan secara unik melalui metode “simbolik” per-angka-an”. Dalam konteks per-angka-an, pengertian angka disini adalah satuan bilangan yang merujuk pada pemaknaan tertentu. Dapat disimpulkan bahwa, Sorong Serah Aji Krame merupakan prosesi tentang “tuntutan berperilaku” bagi setiap orang sasak. Adapun media penyampaian pesan menggunakan piranti berupa material peralatan kehidupan. Substansi yang dipersaksikan adalah, tentang hakekat ke-diri-an, tentang tubuh, tentang nilai nilai kebaikan hidup dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan. Pesan pesan itu dipersaksikan dalam perspektif sufistik dengan ciri : samar, sembunyi dan diam. Penyampaiannya menggunakan bahasa jawa kuno (bahasa kawi) diselingi alunan tembang merdu oleh dua orang ‘pembayun’ atau juru bicara dari perwakilan keluarga kedua mempelai.

1. Sekilas Sejarah
Perlu ditelusuri alasan mengapa Pulau Lombok selalu memikat sebagai tujuan migrasi bangsa-bangsa dari waktu ke waktu. Apakah karena keindahannya, karena lokasinya yang strategis ataukah karena di pulau mungil ini terdapat sesuatu yang bernilai tinggi.
Orang Sasak yang menjadi penduduk asli Pulau Lombok terdiri dari kaum migrant dari berbagai penjuru, utamanya dari Pulau Jawa. Kedatangannya terjadi secara bergelombang. Diantara kelompok pendatang awal tersebut, ditemukan catatan bahwa generasinya yang sekarang merupakan keturunan ke-17. Sangat boleh jadi bahwa terdapat komunitas tertentu yang usia kedatangan awalnya lebih tua dari itu. Dengan demikian maka siapa yang dikatakan sebagai orang sasak harus didefinisikan secara luas dan cermat. Seseorang yang memiliki hak ulayat di tanah Lombok, mempunyai keturunan orang sasak, serta di dalam hidup kesehariannya menjunjung tingg nilai nilai adat sasak dapat disebut sebagai orang sasak.
Lombok merupakan kata yang tidak menunjuk pada sebuah tempat. Tidak pula menunjuk pada tanaman jenis hortikultura yaitu cabe. Lombok menunjuk pada satu kata sifat, yang berarti “lurus” (Lӧmbӧq). Sejalan dengan itu, penduduk asli pulau Lӧmbӧq disebut suku sasak. Kata sasak itu sendiri tercipta dari menyatunya dua kata yang sama, tapi memiliki makna yang berbeda, yaitu kata “saq”. Kata “saq” yang pertama berarti “yang”. Contoh: saq solah (yang baik). Kata “saq” yang kedua berarti “satu”. Contoh: Dalam menghitung, orang sasak menyebut saq, due, telu, dst. (satu, dua, tiga, dst). Dengan demikian, kata sasak berasal dari kata saq saq yang berate “yang satu”. Dari terminology saq saq dan Lӧmbӧq inilah pondasi kebudayaan sasak tercipta.

Dalam perkembangannya, kebudayaan sasak mengalami pasang surut secara ekstrim. Pernah mengalami masa masa kejayaan lalu terpuruk dan lama tak bangkit lagi. Belakangan ini terungkap bahwa Gunung Samalas ‘mantan kakak’ dari Gunung Rinjani, yang pernah meletus pada 1257 dan tercatat sebagai letusan terdahsyat sedunia itu, adalah ‘tertuduh baru’ sebagai penyebab terkuburnya kebudayaan dan situs2 sasak selama enam dasawarsa. Tertuduh lain adalah, kolonisasi yang berkepanjangan dan buruk.
Itulah sehingga naskah-naskah kuno tentang sasak sembunyi dan terserak laksana keramik yang pecah berkeping. Para penekun kebudayaan sasak berhasil merekatnya sehingga mewujud kembali dalam bentuknya yang agak utuh. Wajah yang kemudian muncul adalah bahwa konstruksi budaya masyarakat sasak berpondasi pada ajaran ketauhidan. Demikian pula, beberapa peneliti kebudayaan sasak berkesimpulan bahwa agama-agama tradisional masyarakat sasak sebelum Islam, yang disebut “wrat sari” atau cara berteologi orang sasak di komunitas tertentu di Bayan,ujung-ujungnya akan sampai pada suatu fokus pengamatan, bahwa orang sasak adalah penganut teologi monoteis. Orang sasak sudah lama meyakini keberadaan satu zat supranatural yang melingkupi jagat raya, disebut neneq. Mengapa orang sasak memanggil Tuhan nya dengan sebutan neneq, ini sebuah pertanyaan yang masih diperbincangkan.

Sendi-sendi dasar kebudayaan ini, memiliki korelasi positif dengan konstruksi sosail yang terbangun dan perilaku keseharian masyarakatnya. Demikian pula, korelasi itu secara konsisten mewarnai prinsip-prinsip yang diapakai didalam tatanan sosial yang terbentuk ditengah masyarakat.

Sumber-sumber yang tersedia menerangkan betapa para pemimpin orang sasak berhasil dengan sangat gemilang dalam membuat suatu kontrak sosial, sebagai sebuah kesepakatan awal mengenai pembagian peran dan tanggung jawab setiap orang dan kelompoknya dalam masyarakat. Kontrak sosial itu merupakan pencapaian termegah dari leluhur orang sasak didalam menbangun sebuah masyarakat yang bertatanan, order society. Pembagian peran dan tanggung jawab ini kemudian menjelma menjadi undakan sosial khas sasak. Dikatakan khas, karena sangat berbeda dengan strata sosial yang terdapat pada system kasta. Berbeda pula dengan strata sosial sperti yang dikenal pada umumnya, dimana pada pemeluk budaya lain, antara strata sosial pada tingkat tertentu dengan strata sosial pada tingkatan lainnya, tidak menganut prinsip kesetaraan. Sedangkan pelapisan sosial pada orang sasak terbentuk berdasarkan pilihan leluhurnya, yang kemudian diteruskan turun temurun. Fenomena sosial lain yang dijumpai ditengah masyarakat memperlihatkan bahwa pelapisan sosial ini mengalami dinamikanya berupa kenaikan peringkat (promosi) yang disebut keterimen dan penurunan (degradasi) dari waktu ke waktu.
Pada zaman dahulu, kenaikan peringkat bisa terjadi terhadap seseorang yang digdaya dalam berperang, sehingga menjadi pendekar andalan kelompoknya di medan laga. Atau karena seseorang mempunyai keahlian didalam pengobatan, dermawan, berilmu tinggi dan lain-lain. Kriteria untuk mendapatkan kenaikan peringkat terus mengalami perkembangan. Terkini, prestasi dibidang keilmuan, pengabdian pada agama dan masyarakat, serta pencapaian-pencapaian besar yang nyata dan dapat ditunjuk, bisa menjadi alasan kenaikan status sosialnya dalam masyarakat.

Akan halnya jika yang terjadi adalah tindakan yang sebaliknya, yaitu berupa perbuatan yang merendahkan martabat masyarakat sasak, maka setiap orang bisa mengalami penurunan peringkat, yang disebut susut. Sebab-sebab yang bisa menyebabkan terjadinya penurunan peringkat atau susut, diantaranya (pada zaman dahulu), karena sebab lari dari medan perang, berpihak atau memilih hidup dipihak lawan atau disebut ngayuh. Sebab yang umum, dan berlaku hingga sekarang adalah jika seseorang menjadi tidak bertuhan atau atheis. Pada banyak tempat dan kelompok masyarakat sasak terjadi penurunan peringkat secara sukarela. Banyak dijumpai fakta bahwa sebuah keluarga semula berada pada pelapisan sosial yang tinggi lalu secara sukarela memilih “turun” ke pelapisan sosial pada yang lebih rendah. Laku memakzulkan diri ini mereka lalukakn karena oorang sasak pandai mengukur-ukur diri, apakah ia pantas berada pada pelapisan sosial tertentu dengan tanggung jawab tertentu. Menyadari bahwa pada pelapisan sosial tertentu terdapat tanggung jawab sosial yang tidak mampu dipikulnya maka seseorang atau kelompoknya memilih berada pada pelapisan sosial yang sesuai dengan ukuran diri dan kelompoknya, lalu diteruskan turun temurun.

Pemeringkatan sosial yang dibuat oleh leluhur orang sasak, diukur atas dasar :
1. Derajat ketaqwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang diukur dari praktek menjalankan ajaran agamanya didalam hidup kesehariannya;
2. Pencapaian-pencapaian dan prestasi yang pernah diraih sepanjang hidupnya;
3. Tanggung jawab sosial yang bersedia dipikulnya;
4. Juga atas dasar keturunan.
Dari karakter undakan sosial yang terbentuk itu, mencerminkan betapa relasi antara agama dan adat sedemikian lembut dan mesranya. Bentuk relasinya dilukiskan secara indah didalam semboyan: AGAME BETATAH ADAT. Artinya : agama berhiaskan adat. Hasil dari pembagian peran dan tanggung jawab sosial itu dipersaksikan (testimonial) didalam prosesi perkwainan Sorong Serah Aji Krame.

2. Penemuan Sorong Serah Aji Krame
Tahapan dari daur hidup manusia adalah terlahir, menjadi dewasa (akil baligh), menikah, memasuki usia tua dan meninggal. Setiap tahap dari daur hidup itu dirayakan oleh setiap suku bangsa dimanapun dengan cara yang berbeda. Perbedaan yang terjadi dilatar belakangi oleh sejarah., dinamika yang dialami sebagai komunitas dan agama yang dipeluk. Latar belakang ini menginspirasi masyarakat didalam merancang tata cara melaksanakan suatu perayaan.

Peristiwa perkawinan bagi umat manusia dibelahan bumi manapun merupakan tradisi daur hidup yang terpenting. Tradisi perkawinan bangsa sasak bisa dibilang sebagai salah satu yang paling unik dan menarik. Setiap profesi yang dilalui dimanfaatkan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan tentang hubugan dengan Tuhanya, tentang hidup, pesan tentang hakekat ‘diri’, tentang kewajiban dan tanggung jawab, tentang cinta dan kasih sayang, tentang toleransi dan hubungan natar manusia.

Lazim diketahui bahwa pada ritual suku bangsa lain, dipergunakan simbol dan tanda, tetapi suku bangsa sasak mempergunakan simbol, tanda, angka, warna, sikap dan isyarat. Dijamin nikmat dan mencengangkan apabila menyediakan waktu untuk ‘berselancar’ lalu “menyelam lebih dalam” guna menemukan makna dari setiap pesan simbolik yang disampaikan. Cara ‘menyelam’ itulah yang sangat disarankan jika ingin bertemu intisari ajaran yang hendak dipesankan pada Sorong Serah Aji Krame. Karena pesan-pesan itu berciri: sunyi dan sembunyi. Pada kesempatan mengikuti prosesi Sorong Serah Aji Krame, pasti tidak cukup waktu untuk memahami kedalaman makna dari simbolik yang disajikan. Selain itu, juga terdapat pelajaran yang tak bisa disampaikan secara luas dan terbuka.
Sorong Serah Aji Krame menduduki posisi terpenting dalam perkawinan suku sasak karena tidak hanya mengandung pesan tentang perkawinan semata tetapi menjangkau pada aspek yang lain.

Ada keyakinan , bahwa hanya sebuah karya yang dihasilkan oleh ornag ikhlas dan tercerahkan saja yang bisa selalu terjaga dan lestari. Sorong Serah Aji Krame adalah salah satu karya puncak para pemimpin sasak dalam bidang penataan system sosial dengan pintu masuk melalui peristiwa perkawinan. Entah seperti apa sebelumnya prosesi perkawinan suku sasak dilaksanakan, tetapi beberpa sumber menyebut, bahwa prosesi perkawinan sebelumnya, dilaksanakan secara ‘kering’ tak bermakna. Menyadari bahwa perkawinan merupakan sebuah tonggak terpenting dalam daur hidup manusia maka para pemimpin sasak dari wilayah kedatuan (kerajaan) Selaparang, Bayan, Pejanggik dan Pujut bersepakat menciptakan sebuah penataan sosial yang menghasilkan tata cara yang disebut Sorong Serah Aji Krame. Sebagai penghargaan terhadap penataan sosial yang dihasilakn itu maka pada setiap pembukaan prosesi Sorong Serah Aji Krame, oleh juru bicara upacara (pembayun) selalu disebutkan keempat wilayah perwakilan pemimpin sasak tersebut (catur mandale), yaitu : Selaparang, Bayan, Pejanggik dan Pujut.

3. Makna Sorong Serah Aji Krame
Secara kodrati, setiap orang terlahir sebagai sang juara. Ia terseleksi dari jutaan embrio, “calon makhluk hidup” yang berebut menjadi yang paling berhak untuk lahir. Dengan demikian, pada setiap orang tersedia peluang untukmencapai derajat kemartabatan tertentu untuk meraih ketqwaan. Peluang itu tersedia melalui faktor keturunan (nasab) dan faktor ikhtiar sendiri (achievement).

Sorong Serah Aji Krame, secara arfiah bermakna sebagai berikut : sorong-serah , artinya: persaksian. Aji bermakna derajat atau nilai: Krame, bermakna kemartabatan. Dengan demikian, Serong Serah Aji Krame, bermakna, persaksian tentang derajat kemartabatan.
Pertanyaannya, derajat kemartabatan siapa yang dipersaksikan? Yaitu : kerabat mempelai. Mengapa persaksian itu memilih waktu ketika peristiwa perkawinan berlangsung? Karena ia berkaitan dengan peristiwa daur hidup, peristiwa terkait reproduksi, proses penciptaan makhluk manusia, proses kehadiran anggota baru dari sebuah komunitas. Begitu sakralnya ritual ini sehingga pada komunitas tertentu mempunyai pandangan bahwa mempelai yang tidak melakukan Sorong Serah aji Krame, maka keturunannya disebut sebagai orang gampangan (Dengan Molah)
Sorong Serah aji Krame juga merupakan majelis persidangan adat terpenting sebagai bentuk pertanggung jawaban menyeluruh terhadap setiap tahap perkawinan yang telah berlangsung. Keputusan yang diambil dalam majelis Sorong Serah Aji Krame bersifat final dan berketetapan hokum tetap (inkracht). Oleh karena itulah sehingga pada komunitas adat tertentu sangat menjaga tegaknya prosesi ini. Majelis Sorong Serah Aji Krame sekaligus dipergunakan sebagai salah satu metode syiar.
Memasukkan nilai islami dalam kemasan prosesi adat perkawinan merupakan hasil karya yang cerdas. Berbagai filosofi dan penanda yang dipergunakan dalam prosesi Sorong Serah Aji Krame selalu merujuk pada nilai agama dalam konteks syariat, tarekat, hakekat, bahkan sampai tingkat ma’rifat. Pada majelis ini dipersaksikan tentang essensi kejadian manusia, pada apa manusia bertanggung jawab ,persaksian tentang kemana kita mesti berpulang. Sorong Serah Aji Krame di desain sangat seksama sebagai sebuah cara meletakkan pondasi nilai agama secara tidak membosankan. Padu serasi antara aspek agama dan adat dalam Sorong Serah Aji Krame adalah tuntutan berperilaku (code of behavior) bagi setiap orang sasak yang baru memasuki jenjang berumah tangga. Pada tingkatan tanggung jawab sosial manakah yang sesuai bagi mempelai? Hal inilah yang menjadi tema persaksian utama dalam Sorong Serah Aji Krame. Dari sinilah terciptanya Aji Krame (derajat kemartabatan) setiap orang sasak. Maka terjadilah Aji Krame dengan nilai simbolik Aji Pituq olas (bernilai tujuh belas/17). Aji telong dase telu (bernilai tiga puluh tiga/33). Aji status (bernilai seratus/100). Aji satak (bernilai dua ratus/200).

4.Tujuan Sorong Serah Aji Krame
Adapun tujuan dilangsungkannya Sorong Serah Aji Krame adalah 1). Untuk mempersaksikan derajat kemartabatan, Aji Krame mempelai. 2) Mempersaksikan bahwa setiap rangkaian prosesi yang ditempuh sudah berlangsung dengan baik, serta 3). Sebagai permakluman kepada masyarakat.

4.1. Sebagai forum untuk mempersaksikan “derajat kemartabatan”. Dalam menentukan Aji Krame, hal-hal yang akan dikonfirmasi yaitu mengenai : kapasitas dan potensi pencapaian yang pernah dan yang mungkin bisa diraih oleh mempelai serta pada pelapisan social dengan Aji Krame berapa mempelai akan diposisikan. Apakah Aji Krame: 17-33-66,100 ataukah 200 sebagaimana disebutkan dimuka.
4.2. Sebagai forum untuk memastikan bahwa setiap tahap prosesi pernikahan yang dilalui, sudah ditempuh dengan cara yang benar dan baik. Jika ternyata dalam majelis diketahui pernah ada laku yang keliru maka dalam majelis Sorong Serah Aji Krame inilah akan diselesaikan. Pada bagian akhir Sorong Serah, diserukan: “yen puput talin jinah, tan onang te-baos malik” artinya : Jika telah selesai dilakukan penilaian dan pertimbangan-pertimbangan pada majelis Sorong Serah Aji Krame maka tidak boleh ada yang diperbincangkan lagi atau keputusan telah final dan mengikat, inkrachr. Tahapan mana saja yang diperiksa, yaitu mulai dari:
1. Mbait/Jemput Lakar Ondong/Ritual menagmbil calon istri (bila proses ini yang dipilih). Ketentuan adat menyatakan:
a). Mbait dilakukan pada malam hari,persisnya di sela antara waktu magrib dan isya. Pelaksanaanya tidak boleh dilakukan dengan menggunakan paksaan atau kekerasan, tidak dibawah pengaruh magis atau sesuatu yang membuat calon pengantin wanita tidak dalam kendali akal sehat.
Demikian pula, bahwa dalam proses mbait harus melibatkan seorang perempuan suci yaitu perempuan yang telah memasuki masa menepouse, apakah dilakukan proses pesebo’an (transit di rumah kerabat) sebelum dibawa kerumah orang tua calon pengantin laki-laki.
b). Apakah calon pengantin perempuan telah cukup umur secara kalender (calendar-age). Apakah telah cukup umur menurut undang-undang yang berlaku, atau telah dewasa secara mental (mental-age), bahasa sasaknya disebut “kencaq”.
c) Apakah berangkatnya dilakukan dari rumah orang tua calon mempelai perempuan (bukan dari tempat umum, seperti: dipasar, disumur umum, disekolah ataupun dari rumah selain dari rumah milik orang tuanya).
d). Mesejati-Selabar atau Nyelabar, apakah dilakukan dalam waktu segera (paling lama 3 hari setelah Mbait/Ritual mengambil calon istri).
2. Bait Wali/ Permohonan wali nikah; apakah sudah dilakukan dengan benar, baik dan pantas;
3. Akad Nikah; apakah sudah berpedoman pada syariat Islam;
4. Rebaq Pucuk/Bait Janji (perundingan/negoisasi): yaitu proses penentuan kesepakatan Aji Krame, selanjutnya disepakati mengenai hari resepsi/begawe, yang berlangsung sekaligus dengan prosesi Nyongkolan. Keesokan hari atau beberapa hari setelah Begawe/Sorong Serah/Nyongkolan berlangsung, diambil persepakatan hari untuk dilanjutkan dengan Bales Ones Nae/ kunjungan antar keluarga dekat kedua belah pihak.

5. Filosofi Aji Krame
Sorong Serah Aji Krame menggunakan pesan simbolik, dengan mengkombinasikan unsure per-angka-an, smbol ke-benda-an, isyarat dan warna. Simbol angka dalam Sorong Serah Aji Krame disini bukanlah angka dalam pengertian numerical, tetapi angka sebagai tuntunan berperilaku (code of behavior) yang menjelma sebagai sebuah undakan sosial.
Penting dikemukakan bahwa pada beberapa sub-etnik komunitas tertentu dikalangan bangsa sasak, ada variasi istilah dan pemaknaan Sorong Serah Aji Krame, tetapi semua bermuara pada tujuan yang sama, yaitu : terkait dengan hakekat diri, perangkaan ini member pesan simbolik pada sisi ukhrawi dan sisi duniawi.
Pada sisi ukhrawi, mengandung pesan spiritual yang mempertautkan hakekat diri manusia dalam hubungan dengan ‘Sang Pemiliknya’ Pada sisi duniawi, mengandung pesan tentang bagaimana mempelai harus merealisasikan tanggung jawab kehidupan.

Dalam ‘design’ indah Sorong Serah Aji Krame, sisi ikhrawi ini disebut sebagai ‘Nampak Lemah’ yang berarti: tanah pijakan. Maksudnya, adalah: pondasi spiritual dimana ia berpijak didalam kehidupannya. Sementara itu, sisi duniawinya disebut sebagai: ‘Olen’ yang dimaknai sebagai lakon kehidupan. Kehadiran Nampak Lemah dalam Sorong Serah Aji Krame dipresentasikan melalui piranti berupa sejumlah satuan material tertentu,paling baik berbhan logam mulai, atau dikonversi dengan sejumlah nilai satuan mata uang. Misalnya : Lampak Lemah 10 bisa diwakili oleh 10 keping logam mulia atau 1 lembar uang rupiah pecahan 1.000, 5.000, 10.000, dan seterusnya. Sedangkan Olen diwakil oleh piranti berupa lembar kain, dengan jumlah sesuai dengan aji Krame seseorang. Kombinasi jumlah dari kedua properti pokok tersebut, yaitu Nampak Lemah dan Olen, akan mencerminkan , pada Aji Krame berapa dan pada undakan sosial mana mempelai yang bersnagkutan meletakkan dirinya. Secara lebih terinci, kombinasi antara Nampak Lemah dan Olen pada masing-masing tingkatan Aji Krame, adalah sebagai berikut:

– Aji Krame 17.
Terdiri dari: 7 Lampak Lemah dengan 10 Olen.
– Aji Krame 33.
Terdiri : 10 Lampak Lemah dengan 23 Olen.
– Aji Krame 66.
Terdiri : 20 Lampak Lemah dengan 46 Olen.
– Aji Krame 100.
Terdiri dari 40 Lampak Lemah dengan 60 Olen.
– Aji Krame 200.
Terdiri dari 100 Lampak Lemah dengan 100 Olen.

Adapun makna dari setiap undakan social yang tercipta tersebut adalah sebagaimana berikut ini:

AJI KRAME PITUQ OLAS (TUJUH BELAS/17)
Pada tingkatan ‘Aji Krame Pituq Olas atau 17’ ini, persaksian yang dimunculkan adalah tentang pengetahuan, kerja-kerja dan tanggung jawab social yang paling mendasar dan umum, tidak luas, tidak lebar dan tidak mendalam, Meskipun demikian, pengetahuan dasar tentang apa yang baik dan apa yang buruk, perbuatan yang pantas dan tidak pantas, sesuatu yang bisa dibuka secara terang benderang dan yang tidak pantas dibuka di depan umum merupakan tema yang hendak dipesankan. Pesan dasar tentang salat pun mulai diperkenalkan.
Pada tingkatan ‘Aji Krame Pituq Olas atau 17’ ini terkuak tentang ‘rahasia’ keberadaan ke tujuh belas (17) lubang yang terdapat dalam tubuh manusia. Ke tujuh belas (17) lubang itu ada yang tampak dan ada yang samara tau sembunyi, dengan fungsinya masing masing. Sembilan (9) lubang yang tampak, yaitu : 2 lubang dimata, 2 lubang di hidung, 2 lubang ditelinga, ditambah masing masing satu (1) lubang tunggal di mulut, di alat kelamin dan di dubur.
Pada lubang yang tampak, terkandung maksud bahwa mempelai mampu menjaga perilaku hidupnya, yakni :
○ Lubang hidung, sebagai simbol kepekaan dalam ‘mencium’ isyarat buruk sebelum terjadi.
○ Lubang mata, sebagai simbol ketajaman pandangan. Seorang mempelai harus memiliki daya pandang terhadap kehidupan secara jelas dan mampu menjaga matanya dari penglihatn yang dosa dan nista.
○ Lubang mulut, sebagai simbol kata dan ucapan, yang bermakna bahwa seseorang mempelai harus bisa merawat lisannya dengan baik dan bijak, sekaligus daripadanya menjaga makanannya agar selalu halal, sehat dan bergizi , serta dari sumber yang halal, thayib dan barakah.
○ Lubang kemaluan, sebagai simbol regenerasi, reproduksi sekaligus nafsu. Seorang mempelai harus dapat menjaga alat kelaminnya dari maksiat, merwatnya untuk tetap perkasa atau memuaskan, dan bersedia memberikan nafkah bathin yang menggairahkan.
○ Lubang Dubur, sebagai simbol bahwa setiap orang harus menjaga kotorannya (aib). Tak boleh menumpahkan keburukannya ditempat yang kurang tepat. Kemampuan menyimpan kotoran sebagai symbol kerahasiaan dan sisi gelap kemanusiaan adalah cermin kedewasaan pada kehidupan.

Sementara itu, kedelapan (8) lubang lainnya berupa lubang semu dan sembunyi yaitu, 4 lubang sembunyi di rongga mata, 2 lubang tersamar di susu, 1 lubang di pusar dan 1 lubang semu di ubun-ubun, pemaknaannya membutuhkan telusur lebih dalam. Penulusuran lebih mendalam tentang hakekat keberadaan ke 17 lubang dalam tubuh manusia ini dapat dipelajari pada tetua-tetua tertentu orang sasak. Dalam konteks syariat, simbolik pituq olas ( tujuh belas) dijadikan sebagai pengingat akan jumlah rakaat salat fardu (wajib) dalam sehari semalam.

Sorong Serah Aji Krame, menggunakan penanda simbolik bertingkat. Pada ‘Aji Krame Pituq Olas (bilangan 17) ini, masih dibagi lagi sehingga terdiri dari Nampak Lemah sebesar 4 dan Olen sebesar 13. Satuan 4 disini merefleksikan 4 materi sebagai bahan dasar kejadian manusia yaitu: tanah, air, angin dan api (cahaya). Selanjutnya, keempat materi tersebut direfleksikan didalam gerakan gerakan shalat, dimana posisi rukuq melambangkan sifat angin, posisi sujud melambangkan sifat air yang selalu mencari tempat yang rendah, dan posisi duduk melambangkan tanah.

Adapun Satuan 13, didalam Sorong Serah Aji |Krame, digunakan sebagai peringatan berkenaan dengan filosofi tentang darimana organ tubuh dan panca indera bersumber. Kebijaksanaan tradisional orang sasak meyakini bahwa empat (4) dari organ tubuh manusia yang bercirikan lembut, lunak dan cair adalah berasal dari ibu, yaitu: kulit, daging, darah, sumsum/lolor. Sedangkan empat (4) organ tubuh yang lainnya dengan cirri keras, kaku, liat adalah berasal dari ayah, yaitu : tulang, urat, rambut dan kuku. Selanjutnya, kelima (5) kelengkapan hidup untuk menjadi makhluk manusia bersumber dari Allah, yaitu: penglihatan, pendengaran, penciuman,suara dan nyawa.
Bagaimana satuan 13 ini direfleksikan dalam ritual salat seseorang? Adalah sebagai berikut : Dua (2) kerja qalbi dalam shalat, yaitu : berniat dan laku yang tertib, Lima (5) merupakan kerja dalam bentuk perkataan atau ‘qauli’, yaitu : mengucapkan takbiratul ikhram, membaca surat Al-fathihah, membaca At-tahyat, membaca shalawat dan mengucap Salam. Enam (6) dari ke tiga belas (13) satuan itu berupa kerja perbuatan/gerak tubuh (fi’Iyah), yaitu: berdiri, ruku, I’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud dan tahyat.

AJI KRAME TELONG DASE TELU (TIGA PULUH TIGA/33)
Pada Aji Krame 33 ini mulai dipersaksikan tema yang bersifat terbuka yaitu terkait syariat. Dalam konteks syariat, 33 merupakan penjumlahan bilangan, 20 mewakili 20 sifat Allah ditambah 13 jumlah rukun salat.

AJI KRAME ENAM DASE ENAM (ENAM PULUH ENAM/66)
Pada undakan social ini, terjadi lompatan besaran angka simbol secara berlipat ganda, itu merupakan bonus bagi seseorang yang mengamalkan ilmunya melalui paramudita (pengamar) atau kerja-kerja social lainnya.

AJI KRAME SATUS (SERATUS/100)
Seseorang pada nilai kemartabatan ini memiliki tanggung jawab mengejar dan mendekati 99 asma’ul husna + 1 jati dirinya.

AJI KRAME SATAK (DUA RATUS/200)
Pada derajat kemartabatan ini, seseorang telah mendekati manusia paripurna (insan kamil). Pada orang ini, berpadu secara nyaris sempurna antara sifat kepemimpinan duniawi dan tingkat spiritual yang tinggi. Pada masa kini, derajat kemuliaan dengan AJI SATAK (DUA RATUS) yang dulu disandang oleh seorang “Datu” sudah tidak ada lagi. Menagapa 200? Yakni merupakan kelipatan 2x 100, mewakili badan kasar dan badan halus.

6.Filosofi & Simbol Piranti
Selain Nampak Lemah dan Olen sebagai piranti pokok, masih terdapat piranti simbolik lain yang dihadirkan dalam prosesi Sorong Serah Aji Krame, yaitu sebagai berikut :

6.1 Sirah Aji
Secara harfiah, Sirah berarti kepala, Aji berarti harga/nilai. Inilah mahkota dari seluruh piranti perkawinan orang sasak. Dilambangkan dengan properti selembar kain hitam dan selembar kain putih, diikat menyatu dengan seuntaian benang pintal (benang yang masih menjadi bahan baku tenunan) yang ditaruh diatas bokor/penginang kuning.

6.2 Penjaruman
Simbolik dari piranti ini bermakna sangat mendalam. Materialnya terbuat dari jarum yang telah dimasuki untaian benang. Piranti ini dihadirkan apabila antara keluarga besar pengantin laki dan pengantin perempuan baru pertama kali terjadi hubungan perkawinan. Jika sebelumnya telah ada hubungan perkawinan maka properti “penjaruma” ini tidak dihadirkan. Pesan yang ingin disampaikan adalah: peristiwa perkawinan yabg baru pertama kali terjadi ini merupakan “pintu masuk” yang akan mempertalikan dua keluarga besar.

6.3 Kao Tendok
Harfiahnya berarti: kerbau tidur. Kao berarti kerbau, tendok berarti: tidur. Merupakan kiasan untuk mengatakan sebilah keris. Disini, properti keris adalah lambing akan jaminan keamanan berumah tangga yang menjadi tanggung jawab mempelai laki-laki.

6.4 Salin Dede
Secara harfiah, artinya sebagai berikut: Salin berarti pengganti, sedangkan dede berarti: pengasuhan. Pesan simbolik dari property Salin Dede adalah sebagai pergantian pengasuhan. Secara fisik, properti Salin Dede berupa seperangkat barang-barang yang digunakanoleh seorang Ibu ketika melahirkan. Terdiri dari : Tempayan, Ceraken berisi aneka bumbu dan rempah,umbaq, kain selendang panjang untuk menggendong, semprong, dan lain-lain. Properti itu, meskipun berupa bahan sederhana, tetapi bagi kaum ibu, merupakan bahan dan peralatan yang sangat menolong dan berkesan ketika seorang ibu menjalani masa-masa persalinannya. Semua properti ini didesain indah sebagai property adat yang dibawa oleh mempelai laki untuk dipersembahkan kepada ibu mertuanya. Pemilihan properti berupa seperangkat barang dan peralatan msa bersalin, mengandung pesan simbolik yang dalam sebagai penegas dua hal : pertama, dari sudut pandang mempelai laki terhadap mempelai perempuan, Salin Dede merupakan symbol kesukarelaan mempelai laki untuk mengambil alih kasih saying sebagaimana ibu mertuanya dulu mengasihi anak bayinya yang sekarang menjadi istrinya. Kedua, dari sisi pandang mempelai wanita terhadap mempelai laki, Salin Dede menyampaikan pesan moral, bahwa seseorang isteri harus ikhlas berbakti kepada suaminya, sebagaimana ia wajib berbakti kepada ibunya. Kasih sayang ibu kepada anak bayinya, bakti anak kepada ibunya, pastilah tak tergantikan. Tapi oleh orang sasak, pesan cinta, kasih sayang, kebaktian dan penghormatan itu dipersembahkan dengan sangat indah melalui piranti adat yang disebut Salin Dede.

6.5 Pembukaan Jebak
Sebelum kemerdekaan, desa merupakan wilayah kesatuan hukum adat yang bersifat otonom. Pembukaq Jebak berarti Pembuka Gerbang (desa). Saat ini ,pada sedikit desa tertentu, diterapkan pengeluaran sejumlah dana pembangunan desa yang disebut Pembukaq Jebak, yang ikut diperhitungkan pada saat berlangsungnya Sorong Serah Aji Krame.

6.6 Babas Kute
Babas Kute berarti “melintasi batas desa”. Mirip seperti Kor Jiwe, pada peristiwa perkawinan lintas desa, beberapa desa yang adatnya masih terjaga, menentukan sejumlah dana sosial (charity) pembangunan desa yang jumlahnya bervariasi tergantung kesepakatan warga desa.

6.7 Kor Jiwe
Di Paer Pujut, Kor Jiwe ini disebut “Pemonggol,” menunjuk pada sebatang tongkat dari ranting bamboo yang digunakan penggembala untuk menghela ternaknya. Kor Jiwe ini semacam dana sosial (charity) berupa uang yang diberikan kepada Kepala Dusun yang selam aini mebina warganya.

6.8 Pelengkak
Berasal dari kata “lengkak” yang berarti “melangkahi” menurut kelaziman yang berlaku bahwa seseorang yang berusia tua (kakak) akan menikah terlebih dahulu, menyusul adiknya. Tetapi sangat difahami bahwa jodoh adalah rahasi ilahi. Dalam hal terjadi “melangkahi” seperti itu maka ritual adat menentukan supaya yang melangkahi hendaknya memberikan sesuatu sebagai “penghiburan”, bisa berupa apa saja sesuai kemampuan dan keikhlasan, dan hal ini itu diperbincangkan pula didalam “ Sorong Serah Aji Krame”

6.9 Pemecat Sengkang
Piranti ini hanya berlaku pada komunitas tertentu. Secara harfiah, kata Pecat berarti buka, lepas. Sengkang, bearti : hiasan anting-antingan yang dipakai dengan cara dimasukkan pada daun telinga yang lubangnya lebih lebar dari ukuran tindik telinga seperti biasanya. Sengkang bisa terbuat dari bahan sederhana dari daun lontar yang digulung secara artistic atau dari bahan logam mulia jenis perak atau emas. Waktu beranjak dewasa, sengkang dipasang sebagai penanda memasuki usia remaja. Ketika wanita sasak telah berketetapan hati pada pilihan hatinya untuk menikah maka ada prosesi pemecat sengkang. Pada saat Sorong Serah berlangsung, ada subtitusi bagi Sengkang yang dilepaskan itu, berupa 5000 unit/satuan. Bisa berupa 5000 keping uang bolong atau uang china, atau di-kurs Rp.5.000,-

6.10 Bangket (Sawah)
Bangket artinya sawah. Di paer tertentu, sawah menjadi kelengkapan piranti yang dipernyatakan pihak pengantin perempuan. Lalu pihak pengantin laki menunjuk kawasan persawahan tertentu yang menjadi sawah milik keluarganya secara trun temurun. Penyebutan sawah milik ini minimal untuk meyakinkan pihak keluarga pengantin perempuan bahwa jaminan kecukupan hidup telah tersedia.

6.11 Dedosan
Sebagaimana tujuan siding adat “ Sorong Serah Aji Krame” yaitu untuk memastikan bahwa setiap tahapan proses ritual adat yang ditempuh telah dikerjakan secara beanr, baik dan pantas. Jika ternyata ditemukan pelanggaran dan penyimpangan menurut ketentuan adat maka akan muncul denda-denda yang disebut “dedosan.” Dibayar dalam bentuk sejumlah uang yang besarnya sesuai kesepakatan yang diambil didalam majelis “Sorong Serah Aji Krame”

6.12 Pemegat
Pemegat berarti: pemutus. Maksudnya adalah proses pengambilan keputusan adat. Semacam proses: ketuk palu” dalam persidangan lembaga resmi pemerintah seperti di pengadilan atau di lembaga legislative. Didalam sidang adat “Sorong Serah Aji Krame”, piranti yang digunakan berupa seikat “uang bolong china” yang diikat benang. Pembayun akan memutus benang tali ikatan uang bolong china tsb sbg tanda keputusan telah diambil dan langsung final/inkracht. Disitulah pembayun akan berseru: yen puput talin jinah, tan onang tebaos malik (Jika telah diambil keputusan maka pantang digugat dan dibicarakan lagi.

6.13 Kebon Odeq
Sesuainamanya, kebon berarti : kebun dan odeq berarti mungil. Dengan demikian kebon odeq bearti ‘miniatur kebun’. Berbeda dengan janur sebagaimana yang lazim kita kenal, kebon odeq adalah piranti ritual adat. Piranti adat ini sangat indah. Kreasi ini terbuat dari kombinasi bahan anyaman bamboo, daun lontar, jajanan tradisi dan lain lain sehingga tercipta sebuah miniature kebun yang menyerupai perlambang aneka flora dan fauna. Selama proses pembuatannya, diselenggarakan upcara menembakkan takepan, salah satu sastra klasik sasak yang bersumber dari naskah lontar ‘rengganis,’ kisah percintaan antara Raden Jayengrane dan Dende Munigarim. Sebuah kisah yang tidak kalah romantisnya dengan kisah Rama dan Sinta. Piranti Kebon Odeq dibawa oleh perwakilan mempelai laki pada saat mengiringi barisan pengantin dalam prosesi nyongkolan.

7. Peserta
Pelaku prosesi ini terdiri dari: Kepala Desa, Keliang (Kepala Dusun), Juru Arah (Ketua RT/ Ketua RW), Pengulu-Kia, Cerake, Khatib-modin, Marbot-Bilal, Pembayun, tokoh adat dan tokoh agama serta masyarakat pendukung.

7.1 Dute/Panji: seseorang yang diutus oleh rombongan mempelai laki-laki untuk menanyakan kesiapan menerima kedatangan delegasi. Dute/Panji berhak menyampaikan dan menerima pesan-pesan tetapi tidak mengambil keputusan.
7.2 Pembayun/juru bicara: terdiri dari 2 orang, masing-masing berperan sebagai juru bicara mempelai laki dan juru bicara mempelai perempuan. Pembayun memimpin jalannya Sorong Serah Aji Krame, tetapi pada saat yang diperlukan, harus meminta pendapat peserta lainnya. Antar sesame pembayun berdialog menggunakan bahasa kawi.
7.3 Para penglinsir/tetua yang mengerti seluk beluk adat sasak.
7.4 Para pengulu/kalangan yang mengerti agama, khususnya pengetahuan tentang perkawinan menurut agama Islam.

8. Busana
Busana yang digunakan oleh peserta Sorong Serah adalah: tegep yaitu pakaian adat sasak lengkap, yang terdiri dari: 1). Ikat Kepala atau Sapuq 2). Baju Jas pegon 3). Selewoq Poto/Kain panjang yang dipakai sedemikan rupa sehingga membentuk ujung yang menjuarai kebawah 4). Leang, ikatan kain tenun yang dipasang sedemikian rupa sampai dada, atau bengkung, kain yang diikat melilit di perut.

9. Bahasa
Bahasa yang dipergunakan, terutama oleh pembayun adalah bahasa sak tinggi, yaitu bahsa kawi dan bahsa sasak halus. Pembayun adalah bahasa sasak tinggi , yaitu bahasa kawi dan bahasa sasak halus.

10. Waktu Pelaksanaan
Didalam menentukan waktu pelaksanaan Sorong Serah , orang sasak tidak menggunakan ukuran waktu yang ketat/strict menurut penunjuk arloji atau jam tangan. Patokannya: raraq kembang waru, saat-saat gugurnya kembang pohon waru, setelah masuk waktu shalat Dzuhur (sekitar pukul 13.00)

11. Lain-Lain
○ Penting menjadi catatan bahwa pada setiap wilayah (paer) terdapat variasi di dalam penyebutan istilah & tata cara pelaksanna Sorong Serah Aji Krame, tetapi di dalam narasi ini dipilih yang paling umum berlaku.
○ Prosesi Sorong Serah aji Krame ini meskipun bersifat “wajib” dilaksanakan oleh kedua belah pihak tetapi tanpa dihadiri oleh kedua mempelai. Setelah prosesi sorong serah selesai maka barulah diikuti dengan prosesi nyongkolan. Nyongkolan adalah prosesi rombongan yang beriring-iringan teratur dengan dimeriahkan tetabuhan music berjalan, yang mengantarkan kedua mempelai. Tidak seperti prosesi sorong serah, prosesi nyongkolan ini tidak bersifat “wajib”. Fenomena yang terjadi belakangan ini, justru sebaliknya. Nyongkolan yang bersifat “tidak wajib” malahan tetap dilaksanakan tetapi tanpa Sorong Serah Aji Krame yang sebeanrnya bersifat “wajib”. Begitu pula didaam tata cara pelaksanaanya, tidak mencerminkan sebuah prosesi adat yang tertib dan sacral, melainkan lebih tepat dikatakan sebagai kerumunan yang membuat kemacetan.

FacebookTwitterGoogle+Share

ABOUT

WHO ARE WE ?

Under name PT.Nuansa Cinta Holidays , Cinta Holidays is tour operator base in , Senggigi Raya Street , Lombok Island  . We offers professionally program and Guide in our tour program.  Our past experiences in the tourism industry helps us provides one-of-a-kind tour program

WHAT WE DO ?

We arrange travel for all to location not just in Lombok ,Indonesia  but also in many places in the world.All of our tour program are highly opportunistic, which means rather than set a strict schedule, we’ve always tried to allow for Nature to take it’s course. We plan ahead but We wait for the best time.

As an addition to our schedulled  tours, We can taylor-made  tour program  for just every occasion and every destinations.We can cater and organize small private group to a large company’s  tours or event  to help you get the most out of your experience.

1